Minggu, 24 Juli 2016

Terakhiran

Jika sewaktu malam itu aku menangis karena kamu mematahkan hatiku,
Maka itu adalah kali terakhir aku menangis.
Dan jika aku sekarang menulis kesedihanku dan membaginya bukan hanya dengan kamu,
Maka ini juga adalah kali terakhir aku bilang tentang kesedihanku.
Aku bukan superman, spiderman, atau hulk yang bisa menahan beban lalu melemparnya,
Karena menahan diriku sendiri untuk tidak menyatakan beban di hatiku saja aku tidak sanggup.
Cemen.
Betul adanya bahwa aku sedih setelah kamu pergi,
Sudah kutahan,
Sudah pernah kubilang,
Dan kamu sudah tahu,
Tapi kamu tetap pergi.
Di pagi ini, pukul 11:19 di pagi menjelang siang, di bulan Juli tahun 2016, aku sudah bangun dari tidur yang kulakukan saat fajar menjelang, dan apa yang masih tersisa adalah keinginan untuk memikirkan kamu.
Tak bisa aku tangani saat hatiku sendiri yang mau membuat otakku memikirkan kamu,
Mungkin dia menyuruh si otak untuk memikirkan hal tentang 'pengakuan kesedihanku', mungkin si hati tidak kuat menahan beban dan ingin segera terbebas dari keinginan nya untuk kamu tahu tentang ini.
Suatu perasaan lega yang segera ingin dirasakan,
Lalu pergi dari kesedihan itu sendiri.
Betul bahwa ini belum berakhir dan masih ada kali pertama dan terakhir lainnya yang belum aku lalui,
Seperti jika aku bertemu denganmu lagi untuk pertama kali setelah kamu mematahkan hatiku dan beranjak melupakan begitu saja,
Aku tidak tahu bagaimana aku akan bergerak,
Ketahuilah bawa aku menganggap kita berteman, bukan bermantan.
Seperti yang kamu bilang.
Aku berencana untuk bersikap normal dan tersenyum untuk kamu,
Seperti yang kemarin aku lakukan saat aku dan kamu hanya sekadar teman, dan kita selalu akan seperti itu.
Tapi jika sikapku di luar nalarku saat nanti aku ketemu kamu untuk pertama kali setelah setidaknya pernah mempunyai bahagia yang sama dan meninggalkannya,
Aku harapkan kamu untuk maklum,
Karena itu kali pertama dan terakhir aku akan berbuat seperti itu.
Mungkin kamu kemarin hanya khilaf saat merasakan hal yang berasal dari rasa kasihan padaku,
Lalu tersadar bahwa semuanya terasa salah untukmu.
Aku tidak cantik atau apapun yang bisa membuatmu yakin bahwa kamu tidak menyesal untuk mencintaiku,
Aku hanya bisa begini-begini saja, mengikuti alurmu, dan menerima semuanya dengan lapang dada,
Bahkan itu saja tidak cukup untukku sendiri.
Kamu mungkin sudah menebak tentang sikapku yang tidak mengungkapkan apa-apa tentang kesedihanku saat kita kembali pada pertemanan,
Ya, aku yang sok kuat memendam itu,
Supaya kamu tahu bahwa aku baik-baik saja.
Ketahuilah bawa benar adanya aku baik-baik saja,
Hanya hatiku yang tidak,
Tapi kupastikan besok hatiku akan sehat dan bahagia kembali setelah menulis ini.
Apa yang benar adalah keinginanku untuk tidak menulis kesedihanku dan membaginya dengan orang lain, membuat mereka tahu,
Karena mereka sekalipun tidak tahu tentang bahagiaku,
Yang aku inginkan adalah mereka tidak boleh tahu tentang kesedihanku,
Itu sulit ketika yang menginginkannya adalah hatiku.
Sadarilah bahwa aku hanya ingin kamu yang tahu tentang kesedihanku,
Karena sedihku tertuju pada kamu,
Bukan orang lain.
Aku sudah bilang langsung padamu malam itu,
Meski lewat pesan singkat,
Tentang kesedihanku saat kamu meninggalkan ruang percakapan yang syarat dengan perasaan yang sempat terbalas.
Karena aku hanya butuh kamu yang tahu,
Dan cukup kamu yang tahu kesedihanku,
Karena itu tertuju lurus pada kamu.
Tapi sekali lagi hatiku bertolak belakang dengan pendirianku,
Hatiku tak pernah sekecewa ini,
Berteriak lantang ingin membuat semua orang tahu bahwa kamu adalah punya aku,
Tapi sekarang yang tersisa adalah hanya kata 'pernah'.
Aku sempat ingin membuat pengumuman bahwa aku adalah punya kamu dan kamu punya aku,
Memperlihatkan pada semua orang bahwa aku sudah mencintai orang lain, jangan mengangguku, aku sudah bahagia,
Terutama aku bangga memiliki kamu.
Tapi itu saja tidak cukup.
Suatu tindakan bodoh dan akan membuatmu marah setengah mati padaku karena orang-orang tahu.
Ketahuilah aku takut akan itu.
Banyak pertanyaan yang mampir di kepalaku tentang kebingunganku, mengingat-ingat apa salah yang pernah kuperbuat dan apa yang salah dariku.
Tapi mungkin tidak ada alasan lain selain kamu sudah tidak mau padaku.
Ketahuilah bahwa aku tidak membenci kamu atau menyalahkan kamu,
Aku berterimakasih pada kamu yang sudah membuatku jatuh hati dan mengalah tanpa alasan buatmu,
Sungguh aku merasa senang walaupun cuman sebentar,
Dan aku akan merasa senang seterusnya,
Putus dari hubungan pacaran bukan berarti membuat perasaan ikut putus,
Dia mengikutiku tanpa aku meminta,
Dan perlu kamu ketahui bahwa aku tidak keberatan dengan itu.
Aku masih bersamanya, bahkan ketika menatap jalanan dan tempat-tempat yang selalu mempunyai alasan untuk mengenang.
Ini hanya kesedihanku yang kutulis demi kamu ketahui bahwa hatiku takkan bersedih lagi pada hari besok,
Aku mencintaimu,
Tapi itu saja tidak cukup,
Maka aku harus membiarkanmu bahagia tanpa ada namaku yang menjadi bagian.
Dengan itupun aku juga merasa bahagia.





Dan dengan beginipun aku tahu kamu akan bilang tidak peduli,
Dengan begitu pula aku berhenti.

Sincerely Me,
Nede.

Senin, 28 Maret 2016

Sekadar

Aku tak butuh memilikinya hanya untuk sekadar membalasnya,
Aku tak butuh bertemu dengan dia hanya untuk sekadar menumbuhkan perasaan,
Aku tak butuh dia bicara hanya untuk sekadar tahu kebenarannya,
Dan aku tak butuh dia tahu tentang kebenaranku,
Karena sebetulnya sudah saling tahu dalam diam,
Lewat apapun yang mempertemukan kami,
Bahwa udarapun bisa menjawabnya dengan sekadar kata 'rindu'.
Dan aku tahu masih ada secercah ruangku di sana,
Dan aku yakin dia cukup paham untuk tahu bahwa,
Masih ada seluas semesta dunia ruangnya di sini.

Jumat, 18 Maret 2016

Saya, Aku dan Engkau, Sekadar Pernah 'Menjadi'

"Saya, aku dan engkau, sekadar pernah 'menjadi': tetapi 'yang menjadi' bukanlah dirinya sendiri. Kita mengenal peran kita dengan cukup baik di muka bumi, tapi mungkin kita tidak pernah memahami siapa sesungguhnya 'yang memerankan' itu."

-Emha Ainun Nadjib

Sebetulnya aku selalu memikirkan hal ini, hal yang Emha Ainun Nadjib bisa jabarkan dengan kata-kata. Mungkin kita semua juga selalu.

Aku tidak tahu apa hal yang akan aku bicarakan betul atau tidak, atau sesuai dengan apa yang kamu yakini atau tidak. Tapi semoga kamu memahami.

Aku ingin kalian membaca lagi kutipan Emha Ainun Nadjib di atas.


Sudah? Jika sudah, aku pingin bertanya sama kalian,

Apakah kalian, juga, merasa seperti 'sebenarnya siapa aku?' Dan merasa seperti 'apa segala hal yang aku rasakan itu nyata?' Atau hal yang lebih sempit seperti 'apa warna ini benar warna merah?'

Jika sama merasa, atau hanya satu dua, aku pingin, setidaknya berbagi dengan kalian.

"Saya, aku dan engkau, sekadar pernah 'menjadi':" pada dasarnya kita hanya akan sekadar pernah menjadi, menjadi manusia, mengisi satu raga, "tetapi 'yang menjadi' bukanlah dirinya sendiri." Lalu siapa? Siapa 'yang menjadi'? Aku sendiri tidak tahu, siapa sebenarnya raga yang selama ini aku hidupi, siapa sosok manusia yang aku lihat di cermin. "Kita mengenal peran kita dengan cukup baik di muka bumi," ya, kita semua mengenal peran kita dengan cukup baik di muka bumi, dengan menjadi raga yang kita akui sebagai diri kita sendiri. "tapi mungkin kita tidak pernah memahami siapa sesungguhnya 'yang memerankan' itu." Betul, atau setidaknya aku, tidak pernah mengerti tentang siapa yang sebetulnya ada dalam raga yang sekarang aku hidupi, atau siapa raga yang aku hidupi sekarang. Apa seluruh badan, mata, hidung, mulut, dan telinga ini benar-benar 'aku'?

Pada dasar dan intinya aku cuma pingin bilang bahwa;

Kita semua dilahirkan ke bumi, tanpa meminta terlebih dahulu raga mana yang akan kita hidupi, raga mana yang akan roh kita masuki, raga mana yang akan menampung segala hal yang hidup di dalamnya.

Karena apa yang hidup adalah, siapa yang ada dalam raganya. Seseorang adalah siapa yang memerankan sebuah raga. Kita yang membuat segalanya menjadi nyata untuk setidaknya kita sendiri. Sesosok raga bergantung pada siapa yang memerankannya. Siapa yang memerankannya adalah roh yang ada dalam dirinya. Karena sesungguhnya kepribadian tidak bergantung pada raga dan fisik, tetapi raga betul adanya bergantung pada kepribadian dalam dirinya.

Jadi, orang itu tergantung sama kepribadiannya, tergantung siapa dan bagaimana memerankannya. Kalau orang luarnya jelek, menurut kalian, tapi dia punya kepribadian yang baik dan bisa menguasai dirinya sendiri, membangkitkan dan membuat dirinya sendiri dihargai dan dihormati orang lain, dia pasti punya hidup damai, banyak teman, dipuji, disenangi, benar? Iya, aku memang sok tahu, tapi ini pendapatku.

Sebaliknya, kalo luarnya cantik atau ganteng, tapi dia gabisa menguasai dirinya sendiri ya tetep dia keliatan tolol, bodoh dan segala macam. Ga seimbang.

Contohnya tuh misalkan satu orang dia nggak kaya, tapi karena dia bisa bikin dirinya sendiri terlihat pantas dengan penampilannya, tutur bahasanya, etika dan kelakuannya juga cara berpikirnya, orang-orang jadi berpikir dan mengira kalo orang itu adalah orang kaya dari kalangan atas. Sebaliknya, orang kaya tapi kelakuannya nggak sesuai etika, penampilannya nggak terurus, cara bepikirnya nggak berkembang, pasti orang-orang berpikir "nggak dididik orang tuanya" atau mengira dari kalangan bawah padahal dia orang cukup berada.

Karena seseorang adalah apa yang dia pakai, apa yang dia dengar, dan apa yang dia suka.

Mungkin segitu aja?

Aku ingin kalian nggak menyerah dan pasrah sama dunia ini, benar, semuanya udah dirancang sama Allah SWT, kita nggak pernah minta jadi siapa untuk hidup, semuanya tergantung pada bagaimana kamu memerankannya. Semoga kamu mengerti.

Senin, 29 Februari 2016

Warna dan Kamu

Kuning pink hijau biru
Ah, semuanya ada!
Semua warna,
Di kamarku,
Tapi tidak dengan kamu,
Kamu bukan sebuah warna,
Melainkan manusia yang bisa mewarnai hatiku!
Ah, sudahlah!
Hitam putih akan tetap terasa!