Senin, 28 Maret 2016

Sekadar

Aku tak butuh memilikinya hanya untuk sekadar membalasnya,
Aku tak butuh bertemu dengan dia hanya untuk sekadar menumbuhkan perasaan,
Aku tak butuh dia bicara hanya untuk sekadar tahu kebenarannya,
Dan aku tak butuh dia tahu tentang kebenaranku,
Karena sebetulnya sudah saling tahu dalam diam,
Lewat apapun yang mempertemukan kami,
Bahwa udarapun bisa menjawabnya dengan sekadar kata 'rindu'.
Dan aku tahu masih ada secercah ruangku di sana,
Dan aku yakin dia cukup paham untuk tahu bahwa,
Masih ada seluas semesta dunia ruangnya di sini.

Jumat, 18 Maret 2016

Saya, Aku dan Engkau, Sekadar Pernah 'Menjadi'

"Saya, aku dan engkau, sekadar pernah 'menjadi': tetapi 'yang menjadi' bukanlah dirinya sendiri. Kita mengenal peran kita dengan cukup baik di muka bumi, tapi mungkin kita tidak pernah memahami siapa sesungguhnya 'yang memerankan' itu."

-Emha Ainun Nadjib

Sebetulnya aku selalu memikirkan hal ini, hal yang Emha Ainun Nadjib bisa jabarkan dengan kata-kata. Mungkin kita semua juga selalu.

Aku tidak tahu apa hal yang akan aku bicarakan betul atau tidak, atau sesuai dengan apa yang kamu yakini atau tidak. Tapi semoga kamu memahami.

Aku ingin kalian membaca lagi kutipan Emha Ainun Nadjib di atas.


Sudah? Jika sudah, aku pingin bertanya sama kalian,

Apakah kalian, juga, merasa seperti 'sebenarnya siapa aku?' Dan merasa seperti 'apa segala hal yang aku rasakan itu nyata?' Atau hal yang lebih sempit seperti 'apa warna ini benar warna merah?'

Jika sama merasa, atau hanya satu dua, aku pingin, setidaknya berbagi dengan kalian.

"Saya, aku dan engkau, sekadar pernah 'menjadi':" pada dasarnya kita hanya akan sekadar pernah menjadi, menjadi manusia, mengisi satu raga, "tetapi 'yang menjadi' bukanlah dirinya sendiri." Lalu siapa? Siapa 'yang menjadi'? Aku sendiri tidak tahu, siapa sebenarnya raga yang selama ini aku hidupi, siapa sosok manusia yang aku lihat di cermin. "Kita mengenal peran kita dengan cukup baik di muka bumi," ya, kita semua mengenal peran kita dengan cukup baik di muka bumi, dengan menjadi raga yang kita akui sebagai diri kita sendiri. "tapi mungkin kita tidak pernah memahami siapa sesungguhnya 'yang memerankan' itu." Betul, atau setidaknya aku, tidak pernah mengerti tentang siapa yang sebetulnya ada dalam raga yang sekarang aku hidupi, atau siapa raga yang aku hidupi sekarang. Apa seluruh badan, mata, hidung, mulut, dan telinga ini benar-benar 'aku'?

Pada dasar dan intinya aku cuma pingin bilang bahwa;

Kita semua dilahirkan ke bumi, tanpa meminta terlebih dahulu raga mana yang akan kita hidupi, raga mana yang akan roh kita masuki, raga mana yang akan menampung segala hal yang hidup di dalamnya.

Karena apa yang hidup adalah, siapa yang ada dalam raganya. Seseorang adalah siapa yang memerankan sebuah raga. Kita yang membuat segalanya menjadi nyata untuk setidaknya kita sendiri. Sesosok raga bergantung pada siapa yang memerankannya. Siapa yang memerankannya adalah roh yang ada dalam dirinya. Karena sesungguhnya kepribadian tidak bergantung pada raga dan fisik, tetapi raga betul adanya bergantung pada kepribadian dalam dirinya.

Jadi, orang itu tergantung sama kepribadiannya, tergantung siapa dan bagaimana memerankannya. Kalau orang luarnya jelek, menurut kalian, tapi dia punya kepribadian yang baik dan bisa menguasai dirinya sendiri, membangkitkan dan membuat dirinya sendiri dihargai dan dihormati orang lain, dia pasti punya hidup damai, banyak teman, dipuji, disenangi, benar? Iya, aku memang sok tahu, tapi ini pendapatku.

Sebaliknya, kalo luarnya cantik atau ganteng, tapi dia gabisa menguasai dirinya sendiri ya tetep dia keliatan tolol, bodoh dan segala macam. Ga seimbang.

Contohnya tuh misalkan satu orang dia nggak kaya, tapi karena dia bisa bikin dirinya sendiri terlihat pantas dengan penampilannya, tutur bahasanya, etika dan kelakuannya juga cara berpikirnya, orang-orang jadi berpikir dan mengira kalo orang itu adalah orang kaya dari kalangan atas. Sebaliknya, orang kaya tapi kelakuannya nggak sesuai etika, penampilannya nggak terurus, cara bepikirnya nggak berkembang, pasti orang-orang berpikir "nggak dididik orang tuanya" atau mengira dari kalangan bawah padahal dia orang cukup berada.

Karena seseorang adalah apa yang dia pakai, apa yang dia dengar, dan apa yang dia suka.

Mungkin segitu aja?

Aku ingin kalian nggak menyerah dan pasrah sama dunia ini, benar, semuanya udah dirancang sama Allah SWT, kita nggak pernah minta jadi siapa untuk hidup, semuanya tergantung pada bagaimana kamu memerankannya. Semoga kamu mengerti.